Stop Pembajakan dan Dukung RBT

PEMBAJAKAN !!!???
            Orang asing mungkin akan membayangkan serangkaian aksi Teroris yang mengancam ratusan bahkan ribuan nyawa sedangkan di Indonesia lain, “nggak seekstrim itu” sebagian besar akan langsung berfikir tentang Film, Lagu, CD, Buku dan karya seni lainnya yang dikaitkan dengan peredaran di luar Hak Cipta. Pastilah ada korbannya yaitu orang-orang yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk membangun karyanya dan juga orang lain yang ikut terlibat dalam pengolahan dan pendistribusian. Memang sepertinya korban tidak separah dalam kasus Bom Bali misalnya, tapi mengingat adanya resiko Orang-orang inovatif di Indonesia Berhenti Berkarya-Pembajakan di Indonesia Harus Dihapuskan.
            Heeh...paragraf awal terlalu umum, sebagai ekspresi ke-Indonesiaanq ;). Lebih simple saya ingin menyoroti industri musik di Indonesia. Makin menggilanya jumlah artis pendatang baru 2011 ini, makin teratasilah rasa bosan masyarakat Indonesia dengan adanya koleksi karya yang selalu up to date. Namun, membaca kutipan dari Bang Rhoma, “Dalam segi penjualan, CD bajakan bisa mencapai 90 persen dibanding yang orisinil hanya 10 persen,“ saat mendatangi Mapolda Jawa Timur, Rabu kemarin (14/12/2011) , entah berapa lama musisi Indonesia mau terus berkarya.
             Keluar dari pemikiran penjualan CD orisinil, musisi mendapatkan sumber penghasilan baru yang sedikit menenangkan batin. Ya Ringback Tones (RBT) :-D. Di sisi konsumen, RBT banyak diminati karena banyak hal, diantaranya: RBT seakan menjadi gaya hidup, mirip status Facebook, untuk mengekspresikan diri (saat sedih, senang, dll) juga karena kemudahan dalam menggunakannya (tanpa perlu menyimpan lagu secara lokal), hanya diperlukan mengirim kode sms, dan RBT siap didengarkan tentu saja dengan harga yang pas di kantong. Sedangkan di sisi produsen, termasuk musisi sendiri, RBT diminati karena konten asli tetap terjaga dan secara penuh dikendalikan oleh perusahaan RBT yang bekerja sama dengan provider sehingga “tidak” akan bisa dibajak.
            Hehehehe.... tampaknya ‘tantangan’ memang selalu datang dan memang benar, Industri musik melalui RBT saat ini sedang lesu, kontras dengan maraknya isu sedot pulsa oleh beberapa operator bulan lalu. Walaupun tidak berhubungan secara langsung dengan isu ini, penjualan RBT secara nyata mengalami penurunan drastis hingga 80%. Lagi-lagi musisi menjadi korban.
            Beberapa provider tetap optimis dengan menerapkan strategi baru penjualan dengan menggandeng perusahaan rekaman Luar negeri. Keoptimisan yang patut diacungi jempol dan alangkah lebih baik jika strategi lainnya adalah dengan lebih menindaklanjuti keluhan konsumen. Salah satu konsumen menyatakan malas dan takut menggunakan RBT karena, selain sedot pulsa, beberapa operator langsung memperpanjang penggunaan RBT tanpa persetujuan konsumen.
            Naah.. menurut saya, operator perlu secara tegas memberitahukan konsumen, ngiklan, bahwa tidak akan melakukan sedot pulsa (walaupun memang tidak pernah), lebih transparan, rinci dan jelas  dalam memberikan daftar biaya, dan akan meminta persetujuan sebelum melakukan perpanjangan RBT.
            Pada akhirnya semua usaha-usaha ini semoga akan memberikan keadilan yang sesungguhnya bagi para musisi dan orang-orang inovatif lain di Indonesia sehingga dapat terus Berkarya. 
Salam Indonesia.